Tuesday, May 27, 2008
Thursday, May 1, 2008
Mendung si mega mendung
1 Mei 2008
Pondok Kelapa, Jakarta Timur
. Tahun 1960an aku muncul dalam kehidupan mereka lebih sebagai anak angkat yang ingin belajar melukis. Kini adalah beban hutang kasih yang membuat aku kerap mengunjungi mereka disamping kembali mengutip kenangan yang sering memanggilku datang (pulang kampung di Jawa). Walau di sana sini yang dikutip juga adalah kelelahan dan keletihan dengan pandangan yang semakin sarat - kota padat dengan penduduk memacu kehidupan. Bagaimana tidak, dalam kekumuhan kota, rakyat kecil berkeringat di Tanah Abang, di pinggir Ciliung, kali sanggarahan yang mengalir dari perbukirtan Bogor, meredah Kerawang Bakasi, kurentasi gobok yang renyot, di situ kelompok perempuan sedang meramu tauhu dan tempe, bersahutan dengan penjual roti, kuih, sayuran, barang kelontongan sedang kau sedang minum coklat panas, roti dengan sapuan jem, enak-enak mendengar lagu klasik, dalam rumah bertembok tinggi, tapi di luar sana mereka berjemur, berkeringat, aduh - saluuut kehidupan - hidup harus di pacu.
Pagi ini Geni sudah meloncat keluar ke pejabatnya di pusat kota. Bosnya baru sampai dari Seattle. Harus mendampingi sebagai penterjemah untuk berbincang dengan staf NgO Kesihatan. Si Geni ini memang sering lompat kerja. Dulu dalam period reformasi sebagai direktor TIFA, tapi gara-gara olah Ahli Lembaganya sok pintar, Geni ditolak begitu saja. Namun dia sengeh dan ketawa, ” rezeki di mana-mana kak” . Si Nan (kami memanggilnya Triv) lebih agresif dengan film. Setelah mengarah ” Pasir Berbisik” dan ” Bendera ku” , kini dia bersama suaminya Lokman Hakim memilih Jogja untuk pilihan filmnya. Aku masih belum diberitahu judul film mereka.
***
Makan malam tadi, Makcik Ida menyediakan masakan gorengan ikan asin dengan hirisan petai. gulai telor lemak, ikan belada, dan kari ayam. Masakan Melayu dari Gombak masih hangat di meja. Aku makan malam bersama Bet yang sudah seminggu datang dari Samarenda. Sudah setahun tidak menjenguk Jakarta. Dalam keriuhan anak muda berduyun ke Jakarta, Bet dan suami memilih kota sederhana di Kalimtan. Tepatlah pilihan Bet, ” di Samarinda anak-anak dapat kubentuk dengan nuansa keislaman, tidak riuh rendah di sana” . Bet nampaknya memilih kehidupan gaya hidup Islami. Memakai jilbab, tinggal di rumah, dan menjadikan rumah sebagai pejabat, melakukan kerja-kerja terjemahan dari Indonesia ke Inggeris. Upahnya lumayan juga sehalaman 50,000 rupiah. Tambah Bet, ” anak-anak
membesar di depan mata, mereka mengaji dan di rumah tidak ada tv. Kami memilih film dan video dan anak menontonnya melalui komputer.
Siang ini aku menunggu kedatangn Fikar wartawan Serambik Mekah, akan membincangkan persembahan Gayo untuk dibawa ke Unit Kebudayaan UKM. Insya Allah agar Unit Kebudyaan UKM dapat mengatur persembahan sempena minggu puisi ASEAN pada Ogos mendatang.
Dari jendela , kutonton langit semakin kelabu. Hujan banjirkah petang nanti?