Thursday, May 1, 2008

Mendung si mega mendung

Khamis
1 Mei 2008
Pondok Kelapa, Jakarta Timur

Langit kelabu pagi ini. Daunan juga tidak bergoyang bagai tidak ingin disentuh  angin. Setelah seharian suntuk meredah Bogor, memasuki Sentul, merentas pasar hiruk pikuk, memilih buah kasmek, lobak merah, arvokad, kami menyusur kembali memasuki jalan tol, memilih lorong ke Pondok Gede- Bakasi, dan muncul di simpang ke arah Pondok Kelapa. Di pinggir Kalimalang, ketara airnya semakin keruh, mengalir lesu, perlahan (ingat judul  ” Sungai Mengalir Lesu” karya Pak Samad?). Makcik Ida (isteri almarhum ayah angkat dan guru lukisanku Naz Achnas) terkejut aku muncul tiba-tiba. Geni juga bersorak dalam hpnya, mendengar aku akan datang. Geni , Ken, Triv Nan, Bet yang membesar   di Singapura dan Kuala Lumpur, kini sudah menetap semula di Jakarta. Dulu sang ayah memang dekat dengan seniman kita, bekerja sebagai pelukis dan pengarah film di Singapura dan Ulu Klang

. Tahun 1960an aku muncul dalam kehidupan mereka lebih sebagai anak angkat yang ingin belajar melukis. Kini adalah beban hutang kasih yang membuat aku kerap mengunjungi mereka disamping kembali mengutip kenangan yang sering memanggilku datang (pulang kampung di Jawa). Walau di sana sini yang dikutip juga adalah kelelahan dan keletihan dengan pandangan yang semakin sarat - kota padat dengan penduduk memacu kehidupan.  Bagaimana tidak, dalam kekumuhan kota, rakyat kecil berkeringat di Tanah Abang, di pinggir Ciliung, kali sanggarahan yang mengalir dari perbukirtan Bogor, meredah Kerawang Bakasi, kurentasi gobok yang renyot, di situ kelompok perempuan sedang meramu tauhu dan tempe, bersahutan dengan penjual roti, kuih, sayuran, barang kelontongan sedang kau sedang minum coklat panas, roti dengan sapuan jem, enak-enak mendengar lagu klasik, dalam rumah bertembok tinggi, tapi di luar sana mereka berjemur, berkeringat, aduh - saluuut kehidupan - hidup harus di pacu. 

Pagi ini Geni sudah meloncat keluar ke pejabatnya di pusat kota. Bosnya baru sampai dari Seattle. Harus mendampingi sebagai penterjemah untuk berbincang dengan staf NgO Kesihatan. Si Geni ini memang sering lompat kerja. Dulu dalam period reformasi sebagai direktor TIFA, tapi gara-gara olah Ahli Lembaganya sok pintar, Geni ditolak begitu saja. Namun dia sengeh dan ketawa, ” rezeki di mana-mana kak” . Si Nan (kami memanggilnya Triv) lebih agresif dengan film. Setelah mengarah ” Pasir Berbisik”  dan ” Bendera ku” , kini dia bersama suaminya Lokman Hakim memilih Jogja untuk pilihan filmnya. Aku masih belum diberitahu judul film mereka.   

***

Makan malam tadi, Makcik Ida  menyediakan masakan gorengan ikan asin dengan hirisan petai. gulai telor lemak, ikan belada, dan kari ayam.  Masakan Melayu dari Gombak masih hangat di meja. Aku makan malam bersama Bet yang sudah seminggu datang dari Samarenda. Sudah setahun tidak menjenguk Jakarta.  Dalam keriuhan anak muda berduyun ke Jakarta, Bet dan suami memilih kota sederhana di Kalimtan. Tepatlah pilihan Bet, ” di Samarinda anak-anak dapat kubentuk dengan nuansa keislaman, tidak riuh rendah di sana” . Bet nampaknya memilih kehidupan gaya hidup Islami. Memakai jilbab, tinggal di rumah, dan menjadikan rumah sebagai pejabat, melakukan kerja-kerja terjemahan dari Indonesia ke Inggeris. Upahnya lumayan juga sehalaman 50,000 rupiah. Tambah Bet, ” anak-anak
membesar di depan mata, mereka mengaji dan di rumah tidak ada tv. Kami memilih film dan video dan anak  menontonnya melalui komputer.  

Siang ini aku menunggu kedatangn Fikar wartawan Serambik Mekah, akan  membincangkan persembahan  Gayo untuk dibawa ke Unit  Kebudayaan UKM. Insya Allah agar  Unit Kebudyaan UKM dapat mengatur persembahan sempena minggu puisi ASEAN pada Ogos mendatang.
Dari jendela , kutonton  langit semakin  kelabu. Hujan banjirkah petang nanti?

Posted by Siti Zainon Ismail at 05:44:46
Comments

3 Responses to “Mendung si mega mendung”

  1. Anonymous says:

    jangan lupa ke jogja lagi kak cut! semoga wirid sela merapi terus bergema dalam nyanyian pinus lembah kaliurang -tahniah budak telok samawi..

  2. Anonymous says:

    Ya rindu Jogja takkan terpadam. begitu juga jejak jalan setapak di bawah bayang cemara basih Kaliurang. Siapa Sidan dalam novel Abidah. Sidang dengan cinta rindu dendam di kampus putih. Kirimalah lagu puisi cemarah Merapi.salam untuk semua di jogja

  3. Anonymous says:

    Perjalanan Di Bukit Senja

    Di sini aku, menyelinap
    Di riak dadamu
    Warna senja, tiga kunang-kunang berkejaran
    Kelipnya melukiskan garis dan jalinan
    Melompat, menyiat
    Di ujung rambutku
    Kau bertahta.

    Di celah-celah bukit kecil
    Kau tidur, aku pun mula
    Menggeliat di kepakmu.

    Waktu ku panjat langit
    Ku suak mega
    Ambillah kembang-kembang lalang ini
    Dan terbang
    Ke senyum
    Luas milik-Nya.

    ( Februari 1977 - Puisi Putih Sang Kekasih, UKM )

Leave a Reply